"Cinta dan Persahabatan Tiada Akhir"
“Sha… tungguin donk,,,?” teriak Zizi.
“cepetan dikit donk Zi” kata Marsha sambil terus berlari.
Tiba-tiba,,, gubrakkkk….
Marsha bertabrakan dengan seorang cowok dan terjatuh.
“maaf, maaf..” pinta Marsha sambil berdiri.
“loe kalau jalan lihat-lihat
donk..” kata cowok tersebut.
“yha, maaf gue lagi
buru-buru” jawab Marsha.
Lalu Zizi datang
menghampiri.
“loe gak pa-pa kan Sha..?” tanya Zizi.
“yha, gue gak pa-pa” jawab Marsha.
Cowok teresebut berlalu
begitu saja tanpa menghiraukan mereka berdua.
“loe kenal cowok thu Zi,,?”
tanya Marsha.
“owh,, dia thu anak
pindahan.” jawab
Zizi.
“jurusan mana?” Marsha makin penasaran.
“kurang tau juga sich, tapi
kayaknya sastra inggris dech” jawab Zizi.
“by the way, kita udah
telat Zi,, ayo cepetan” ajak Marsha.
Lalu
merekapun kembali berlari tapi sekarang dengan hati-hati. Mereka berhenti
didepan pintu sebuah ruangan. Marsha pun mengetuk pintu, membukanya dan
langsung mengambil tempat duduk diikuti oleh Zizi.
“loe dari mana Sha?” tanya Marcel.
“owh, maaf.. tadi gue lupa
kalau ada rapat” jelas Marsha.
“bukannya udah gue smz
tadi?” ucap Marcel.
“eipz, sorry.. batrai hp
gue lowbat jadi smz loe gak kebaca dech..”
jelas Marsha.
“alasan loe,,,” ejek Marcel.
“eh, sha.. bukannya cowok
thu yang tadi tabrakan ma loe..?” kata Zizi sambil
nunjuk cowok yang duduk dibarisan paling depan.
“thu siapa sich, yo?” tanya Marsha sama sahabatnya Zio.
“namanya Rafael, dia anak
sastra inggris,, pindahan..” jawab zio.
“by the way, kalian tabrak
dimana?” Anna mulai kepo.
“tadi, didepan ma Marsha” jawab Zizi.
“hmm,, ada yang bakalan
dapat gebetan baru nich..” ejek Anna.
“siapa..? gue…? gak
mungkinlah..” jawab Marsha.
“udah, udah. Kita thu lagi
rapat, loe semua bisa diam gak sech,,?” kata
Zio.
“yha,, siap boss…” ejek Marsha, Anna, dan Zizi pelan tapi serentak.
***
Tak
berapa lama kemudian, rapat pun selesai.
“sekian dulu rapat kita
hari ini..” pimpinan rapat menutup rapat.
“Yo, anak baru thu kenapa
udah masuk aja dalam susunan panitia rapat?” tanya
Marsha masih penasaran.
“dia transferan dari Universitas
Anak Bangsa dan langsung direkrut olek ketua BEM untuk jadi Pj. Departemen Luar
Negeri dalam susunan kepanitiaan” jelas Zio.
“mank kenapa sha,,? pa loe
tertarik ma dia..?” tanya Marcel dengan muka sedikit
jelez.
“gak kenapa-kenapa, gue
pngen tau jha,,” jawab Marsha dengan santainya.
“habis ini kita kemana?” tanya anna.
“kantik yuck,,” ajak Zizi.
“yuck…” balas Anna.
“kalian duluan ajha, gue
mau ambil tas dulu yang ketinggalan di locker” ucap
Marsha.
“ship..” jawab mereka serentak.
***
Marcel
dan Marsha adalah sahabat sejak kecil. Orang tua mereka juga temenan dari dulu.
Sejak dulu marcel adalah orang yang selalu ada buat Marsha, di saat dia lagi sedih
maupun lagi senang. Walaupun mereka sahabatan sejak kecil, tapi sejak itu juga
Marcel menyukai Marsha secara diam-diam. Karena takut persahabat mereka akan
rusak, dengan berat hati Marcel hanya bisa memendam perasaanya.
Sedangkan
Zio, Zizi, dan Anna adalah sahabat mereka sejak masuk perkuliahan.
***
Zio,
Zizi, Marcel dan Anna beranjak menuju kantin, sedangkan Marsha pergi mengambil
tasnya. Setibanya di locker, ia melihat Rafael sedang duduk sendiri. Marsha pun
menghampirinya.
“hay,, gue Marsha” Marsha mengulurkan tangannya.
“hmm,, gue Rafael” jawabnya sambil membalas uluran tangan Marsha.
Mereka
pun berbincang-bincang sampai marsha lupa kalau ia punya janji makan di kantin
bersma teman-temannya.
“gue duluan yha, ada
kelas..”
ucap Marsha.
“okey,, bye Sha..” kata marcel.
Mereka pun berpisah.
Marsha menuju ruangan kuliahnya.
***
Setibanya
di ruangan kuliah…
“loe kemana ajha Sha,,?” tanya Zizi.
“eipz,, sorry.. gue lupa” jawab Marsha.
“mank loe dari mana tadi?” Anna bertanya.
“ada dech,, J” jawab Marsha.
Dosen
pun masuk dan memulai perkuliahan. Setelah jadwal kuliah selesai, seperti biasa
Anna, Zizi, Marsha, Marcel dan Zio pulang bersama.
Dalam perjalan di
koridor gedung perkuliahan, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Marsha.
“pulang bareng yuck,,” ajaknya.
“loe Fael, gue kiraan
siapa” jawab Marsha.
“sorry yha guyz, gue pulang
bareng Rafael” ucap Marsha ama temen-temennya.
“sejak kapan mereka akrab?”
tanya Marcel.
“biarin ajha lah Cel,,” kata Anna.
Marcel hanya bisa
terdiam.
***
Semakin
lama hubungan antara Marsha dan Rafael semakin dekat. Hingga akhirnya
masing-masing perasaan mereka terungkap. Seperti biasa, Marsha pulang bersama
Rafael.
“Sha,, gue pengen ngomong
sesuatu ama loe..”ucap Rafael ketika sedang berada di
atas motor bersama dengan Marsha.
“ngomong ajha” jawab Marsha.
“tapi gak disini, loe bisa
temenin gue bentar gak..?” tanya Rafael.
“kemana..?” ucap Marsha.
“gue pengen ngajak loe ke
sebuah tempat” kata Rafael.
“okey,,” jawab Marsha.
Tak
lama perjalanan mereka, merek pun sampai di sebuah danau, lalu mencari tempat
duduk.
“loe sering kesini?” tanya marsha.
“yha, kalau gue lagi gak
mood, lagi sedih, marah, gue selalu kesini. Disini gue selalu bisa tenangin
pikiran dan perasaan gue” jawab Rafael.
“owh gtu.. by the way, loe
pengen ngomong pa’an?” tanya marsha.
“gini Sha, sebenarnya…” Rafael terhenti. Lalu ia melanjutkan.
“gue sayang ama loe, gue
selalu pengen ngejagain loe. Gue pengen jadi orang yang selalu ada buat loe,
saat loe sedih gue pengen jadi orang pertama yang ngehapus air mata loe, di
saat loe lagi seneng gue juga pengen ngerasain kebahagiaan loe” ucap Rafael dengan lembutnya seraya memegang tangan Marsha.
“loe mau kan jadi bagian
dari kisah hidup gue, yang akan ngisi warna di hari-hari gue” pinta Rafael.
“hmm,,,,,” Marsha berfikir.
Sejenak
merekapun terdiam.
“yha, gue mau..” jawab Marsha akhirnya dengan sikap malu-malu.
Disaat
yang bersamaan, Marcel teman kecilnya Marsha sedang bersiap-siap untuk
mengungkapkan perasaannya.
“gue harus coba, dari pada
gue gak tau arah gini..” ucap Marcel pada dirinya
sendiri.
Marcel
menuggu Marsha didepan kostnya.Dua jam telah berlalu, tapi orang yang yang ditunggu
tak kunjung datang. Marcel pun memutuskan untuk masuk ke kosannya, kebetulan
kosan mereka bersebelahan dan sama-sama berada di lantai dua. Marcel pun membersihkan
dirinya (alias mandi). Ketika ia keluar dari kamarnya dan berdiri di balkon
kamar kosnya ia melihat marsha pulang diantar oleh Rafael. Setelah Rafael
pergi, Marsha pun masuk ke kosannya dan menaiki tangga menuju kamarnya.
“dari mana loe Sha..?” tanya Marcel.
“loe ngagetin gue jha..” jawab Marsha dengan terkejut.
“gak dari mana-mana, cuma
jalan-jalan jha..” jawab marsha dengan santainya.
“loe da waktu gak Sha,,? da
yang pengen gue omongin ama loe” tanya Marcel.
“gue juga ada yang mau di
omongin ma loe, tapi ntar yha, gue mandi dulu, udah bau ne..” jawab Marsha.
“okey, ntar kalau loe udah
selesai, panggil gue yha,,” kata Marcel.
“shipz,, bosss…” kata Marsha sambil tersenyum dengan manisnya.
Marsha pun masuk ke
kamarnya dan langsung mandi. Marcel juga masuk dan berlatih kata-kata yang akan
ia ucapkan padan pujaan hatinya itu yang selama ini telah lama ia pendam.
“cel.. gue udah siap ni,,
keluar donk..” teriak Marsha dari balkon kamarnya.
Marcel pun keluar.
“loe pengen ngomong pa’an
Cel..?” tanya Marsha.
“owh.. gne Sha… sebenarnya
gue…” ucap marcel dengan gugupnya.
“sebelum loe ngomong, gue
yang duluan ngomong” tiba-tiba Marsha
memotong pembicaraan Marcel.
“gue udah jadian ma Rafael,,,
seneng banget gue rasanya. Akhirnya perasaan yang gue pendam bisa terungkap dan
gak bertepuk sebelah tangan” Marsha menceritakan
persaannya dengan mata berbinar-binar.
Bagaikan
kaca yang jatuh dan pecah begitu pula perasaan yang sedang dirasakan Marcel.
Terdiam. Ia hanya bisa terdiam dan terpaku membisu.
“loe pengen ngomong pa’an
tadi Cel,,?” tanya Marsha.
Tanpa menjawab, Marcel
langsung masuk kemarnya.
“loe marah ama gue cel
gara-gara gue motong pembicaraan loe?” teriak
Marsha pada Marcel.
Marcel menutup pintu
kamarnya tanpa menghiraukan teriakan dari Marsha.
“kenapa Tuhan,,? kenapa ini
semua terjadi? mungkinkah ini yang terbaik,,? kalau ini adalah demi kebahagiaan
,arsha, bantu aku untuk melupakan dan merelakannya..” gumam
marcel pada dirinya sendiri.
Sejak
kejadian itu, sejak ia mengetahui kalau cintanya bertepuk sebelah tangan, ia
berusaha untuk melupakan dan merelakan Marsha dengan cara menghindarinya.
“Cel,, temenin gue ke
perpus yuck,,?” pinta Marsha.
“maaf Sha, gue lagi
sibuk..” jawab Marcel.
“loe becanda kan Cel,,? loe
duduk-duduk jha.. kenapa loe berubah gini sich Cel..? loe jadi hindarin gue.. apa
karena masalah yang waktu itu? gue minta maaf..” pinta
Marsha.
“gue gak berubah..” Marcel pun lalu beranjak pergi.
“Cel,,,…” teriak Marsha.
Tanpa menghiraukan
Marsha, Marcel pun pergi.
“auw….” teriak Marsha.
Marcel
pun berbalik dan sudah melihat Marsha tergeletak di lantai. Spontan, Marcel pun
langsung membawa Marsha kerumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari
kampus. Sebenarnya Marcel sudah merasa khawatir kenapa akhir-akhir ini Marsha
kelihatan pucat dan sering sakit kepala. Tapi karena ia sedang menghindari Marsha
jadi ia tidak bisa menunjukkan rasa kekhawatirannya itu.
Setibanya
di rumah sakit, Marsha langsung dilarikan ke ruangan UGD. Marcel pun langsung
memberi tau orang tua Marsha dan sahabat-sahabatnya. Tapi karena orang tua Marsha
sedang berada di luar negeri jadi mereka akan terlambat untuk datang.
Setengah jam berlalu,
tapi dokter yang memeriksa Marsha belum juga keluar dari ruangan UGD. Zizi,
Anna,Zio, dan Rafael pun akhirnya datang.
“marsha kenapa Cel?” tanya Anna.
“gue gak tau, tadi
tiba-tiba aja dia pingsan” jawab Marcel.
“kenapa jadi gini? waktu itu
dia juga pingsan saat pergi jalan ama gue. tapi dia bilang gak pa-pa dan
menolak saat gue ajak ke rumah sakit” ucap Rafael.
Dokter
pun keluar dari ruangan UGD dan menjelaskan kepada mereka tentang apa yang
terjadi pada Marsha. Kanker otak stadium IV, itulah yang dikatakan dokter
tentang penyakit Marsha dan tidak banyak waktu yang tersisa. Dokter juga
mengatakan bahwa Marsha sebelumnya sudah mengetahui tentang penyakitnya dan
menolak untuk dilakukan kemoterapi.
“gak mungkin dok, tadi Marsha
masih baik-baik ajha” kata Rafael.
“yha dok.. tadi ia masih
tersenyum dan sempat juga jaim ma kami dok.. dokter pasti salah” kata Zizi sambil menagis dan memeluk Anna.
Marcel
hanya terdiam dan terpaku, ia masih tidak percaya kalau orang yang di
sayanginya itu sedang sakit parah.
“apa kami boleh masuk
dok,,?” tanya Zio.
“kalian boleh masuk asalkan
jangan berisik, karena Marsha perlu istirahat”
kata dokter.
Merekapun
masuk, dan terlihatlah seorang cewek berparas cantik sedang sekarat di atas
tempat tidur. Terlihat wajahnya yang pucat dan ia terbaring tidak berdaya.
Mereka menunggui Marsha sampai ia siuman.
“loe udah sadar sha,,?” kata Marcel ketika ia meliha Marsha mulai membuka matany.
“maafin gue..” pinta Marsha dengan suara yang terdengar lemah.
“gue yang harus minta maaf
Sha,,” pinta Rafael sambil memegang tangan
kekasihnya itu.
“maaf karena gue gak tau
tentang penyakit loe dan gak ngasi perhatian lebih ma loe, seharusnya gue
selalu ada di saat loe ngerasa sakit” sambung Rafael
sambil meneteskan air mata.
“gue juga minta maaf Sha,
gak seharusnya gue jaga jarak ma loe,, gue emang sahabat yang gak baik ama loe”
ucap Marcel.
“loe jangan bilang gitu
Cel, dan Fael.. jangan sedih gItu.. gue sengaja gak cerita ama kalian semua,
gue gak pengen kalian semua khawatir” kata Marsha.
***
Zizi
dan Anna hanya bisa memeluk temennya itu. Setiap hari, mereka selalu datang
untuk menjenguk Marsha. Mengajak Marsha jalan-jalan ke taman yang berada di
rumah sakit tersebut. Mereka duduk-duduk ditaman sambil berusaha membuat Marsha
tetap tersenyum dan selalu ceria.
“guyz..” marsha memanggil teman-temannya dengan nada lirih.
“gue pengen kalian ngabulin
permintaan gue, mungkin ini adalah permintaan terakhir gue” pinta Marsha.
“jangan bilang gitu donk
Sha” kata Zizi.
“gue pengen kita pergi
piknik. Gue, Zizi, Anna, Marcel, Zio dan Fael pergi piknik ke danau yang pernah
gue datangin ama Fael. Gue pengen istirahat dan tenangin pikirin disana, gue
capek.. kalian mau yha,,?” pinta marsha dengan
lemahnya.
Mendengar
permintaan tersebut, mereka hanya bisa tertunduk diam.
“okey Sha, besok kita pergi
yha..” kata Rafael.
***
Setelah
meminta izin pada dokter yang merawat marsha untuk membawa Marsha pergi, Zizi,
Marcel, Anna, Rafael dan Zio membawa Marsha ke tempat yang ingin ia datangi.
Setibanya di danau,
mereka pun duduk santai di atas tikar yang terbentang diselingi dengan makanan
yang mereka bawa.
Mereka
semua tertawa berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Mendadak Marsha
merasakan sakit pada kepalanya.
“loe gak pa-pa kan Sha,,,?”
tanya Rafael.
“gue pengen tidur di
pelukan loe, Fael..” kata Marsha.
Lalu
ia merebahkan badannya ke Rafael. Kepalanya ia letakkan di atas paha Rafael.
Rafael pun mengelus kepala Marsha. Marsha menggenggam tangan Rafael dengan
eratnya karena ia sedang menahan rasa sakit yang teramat sakit. Marsha pun
mulai bicara.
“Zizi, Anna… maafin gue
yha.. gue gak pernah jadi sahabat yang baik buat loe berdua.. gue selalu jha
jaim ma kalian..” kata Marsha lirih.
“jangan bilang gtu, Sha..” pinta Anna.
“itu gak bener Sha,, loe
adalah sahabat terbaik buat kita” jelas Zizi.
“Zio,,,” panggilnya pada Zio.
“maafin gue, gue selalu jha
ngerepotin loe..” sambung Marsha.
“gak pa-pa Sha, loe kan
sahabat gue..” jawab Zio.
“Cel.. maafin gue..
sebenarnya gue udah tau tentang perasaan loe ama gue,, tapi maaf gue sayang ama
loe sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang kakak, loe adalah sahabat
terbaik buat gue Cel…” kata Marsha pada Marcel.
“gak pa-pa Sha, asalkan loe
bisa bahagia ama orang yang loe sayang, gue rela..” jawab
marcel.
Marsha
pun semakin erat menggenggam tangan Rafael. Terlihat ia sudah tidak punya
tenaga lagi dan wajahnya semakin pucat. Dengan nada suara semakin lirih, ia
lanjutkan untuk berbicara.
“Fael..” panggilnya pada Rafael.
“yha Sha,,” jawab Rafael.
“makasih, karena loe udah hadir
di hidup gue, ngerubah hidup gue, ngasi pelangi di hari-hari gue.. tapi maf gue
gak pernah bisa jadi cewek yang loe inginkan,, Fael” kata
Marsha.
“loe salah Sha,, loe adalah
cewek terbaik yang pernah gue miliki, loe adalah hadiah terindah yang di kasih
Tuhan buat gue…” jawab Rafael sambil terus
mengusap-usap kepala marsha.
“makasih yha,, buat kalian
semua… sahabat-sahabat terbaik gue…” kata Marsha
dengan suara yang semakin lemah.
Mereka
semua tertunduk disamping Marsha dan tanpa disadari air mata mengalir begitu saja
di pipi mereka.
“loe semua jangan kayak
anak kecil gotu donk.. kalian harus selalu tersenyum kalau pun akhirnya gue
udah gak ada..” kata Marsha sambil tersenyum.
“gue pengen tidur,, gue
capek…” katanya.
Ia
pun memegang tangan sahabat-sahabatnya itu sambil tersenyum. Tiba-tiba disaat
matanya terpejam, pegangan tangan yang mulanya erat itu tiba-tiba terlepas
begitu saja. Marsha menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman di pelukan
shabat-sahabatnya.
“Marsha…….” teriak semuanya.
“jangan tinggalin gue,,,,” pinta Rafael.
“kenapa Tuhan,, kenapa
setelah dia gak bisa gue miliki, kenapa akhirnya dia harus pergi..? gue cuma
pengen ngelihat dia bahagia..” kata Marcel dengan
lirih.
Mereka semua berpelukan.
“Cinta memang gak selalu harus memiliki.
Melihat orang yang dicinta tersenyum bahagia dengan orang lain dan
mengikhlaskan orang tersebut untuk bahagia dengan orang yang dicintainya…
itulah cinta…
Sahabat,,, adalah orang yang selalu ada disaat
kita membutuhkannya, disaat kita bahagia, dan walalupun itu adalah saat-saat
terakhir dan yang paling sulit untuk kita lalui.”
Dua
bulan telah berlalu sejak kepergian marsha. Semuanya kembali normal. Rafael,
Marcel, Zizi, Zio, dan Anna kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa tapi
sekarang tanpa kehadiran Marsha. Walaupun Marsha sudah pergi meninggalkan
mereka, tapi rasa cinta dan persahabatan tiada akhir mereka bersama Marsha tak
akan pernah terlupakan dan tergantikan. Karena Marsha akan selalu hidup di hati
mereka.
