Rabu, 11 Juni 2014

Cinta dan Persahabatan Tiada Akhir




"Cinta dan Persahabatan Tiada Akhir"







 


“Sha… tungguin donk,,,?” teriak Zizi.
“cepetan dikit donk Zi” kata Marsha sambil terus berlari.
Tiba-tiba,,, gubrakkkk…. Marsha bertabrakan dengan seorang cowok dan terjatuh.
“maaf, maaf..” pinta Marsha sambil berdiri.
“loe kalau jalan lihat-lihat donk..” kata cowok tersebut.
“yha, maaf gue lagi buru-buru” jawab Marsha.
Lalu Zizi datang menghampiri.
“loe gak pa-pa kan Sha..?” tanya Zizi.
“yha, gue gak pa-pa” jawab Marsha.
Cowok teresebut berlalu begitu saja tanpa menghiraukan mereka berdua.
“loe kenal cowok thu Zi,,?” tanya Marsha.
“owh,, dia thu anak pindahan.” jawab  Zizi.
“jurusan mana?” Marsha makin penasaran.
“kurang tau juga sich, tapi kayaknya sastra inggris dech” jawab Zizi.
“by the way, kita udah telat Zi,, ayo cepetan” ajak Marsha.
Lalu merekapun kembali berlari tapi sekarang dengan hati-hati. Mereka berhenti didepan pintu sebuah ruangan. Marsha pun mengetuk pintu, membukanya dan langsung mengambil tempat duduk diikuti oleh Zizi.
“loe dari mana Sha?” tanya Marcel.
“owh, maaf.. tadi gue lupa kalau ada rapat” jelas Marsha.
“bukannya udah gue smz tadi?” ucap Marcel.
“eipz, sorry.. batrai hp gue lowbat jadi smz loe gak kebaca dech..” jelas Marsha.
“alasan loe,,,” ejek Marcel.
“eh, sha.. bukannya cowok thu yang tadi tabrakan ma loe..?” kata Zizi sambil nunjuk cowok yang duduk dibarisan paling depan.
“thu siapa sich, yo?” tanya Marsha sama sahabatnya Zio.
“namanya Rafael, dia anak sastra inggris,, pindahan..” jawab zio.
“by the way, kalian tabrak dimana?” Anna mulai kepo.
“tadi, didepan ma Marsha” jawab Zizi.
“hmm,, ada yang bakalan dapat gebetan baru nich..” ejek Anna.
“siapa..? gue…? gak mungkinlah..” jawab Marsha.
“udah, udah. Kita thu lagi rapat, loe semua bisa diam gak sech,,?” kata Zio.
“yha,, siap boss…” ejek Marsha, Anna, dan Zizi pelan tapi serentak.
***
Tak berapa lama kemudian, rapat pun selesai.
“sekian dulu rapat kita hari ini..” pimpinan rapat menutup rapat.
“Yo, anak baru thu kenapa udah masuk aja dalam susunan panitia rapat?” tanya Marsha masih penasaran.
“dia transferan dari Universitas Anak Bangsa dan langsung direkrut olek ketua BEM untuk jadi Pj. Departemen Luar Negeri dalam susunan kepanitiaan” jelas Zio.
“mank kenapa sha,,? pa loe tertarik ma dia..?” tanya Marcel dengan muka sedikit jelez.
“gak kenapa-kenapa, gue pngen tau jha,,” jawab Marsha dengan santainya.
“habis ini kita kemana?” tanya anna.
“kantik yuck,,” ajak Zizi.
“yuck…” balas Anna.
“kalian duluan ajha, gue mau ambil tas dulu yang ketinggalan di locker” ucap Marsha.
“ship..” jawab mereka serentak.
***
Marcel dan Marsha adalah sahabat sejak kecil. Orang tua mereka juga temenan dari dulu. Sejak dulu marcel adalah orang yang selalu ada buat Marsha, di saat dia lagi sedih maupun lagi senang. Walaupun mereka sahabatan sejak kecil, tapi sejak itu juga Marcel menyukai Marsha secara diam-diam. Karena takut persahabat mereka akan rusak, dengan berat hati Marcel hanya bisa memendam perasaanya.
Sedangkan Zio, Zizi, dan Anna adalah sahabat mereka sejak masuk perkuliahan.
***
Zio, Zizi, Marcel dan Anna beranjak menuju kantin, sedangkan Marsha pergi mengambil tasnya. Setibanya di locker, ia melihat Rafael sedang duduk sendiri. Marsha pun menghampirinya.
“hay,, gue Marsha” Marsha mengulurkan tangannya.
“hmm,, gue Rafael” jawabnya sambil membalas uluran tangan Marsha.
Mereka pun berbincang-bincang sampai marsha lupa kalau ia punya janji makan di kantin bersma teman-temannya.
“gue duluan yha, ada kelas..” ucap Marsha.
“okey,, bye Sha..” kata marcel.
Mereka pun berpisah. Marsha menuju ruangan kuliahnya.
***
Setibanya di ruangan kuliah…
“loe kemana ajha Sha,,?” tanya Zizi.
“eipz,, sorry.. gue lupa” jawab Marsha.
“mank loe dari mana tadi?” Anna bertanya.
“ada dech,, Jjawab Marsha.
Dosen pun masuk dan memulai perkuliahan. Setelah jadwal kuliah selesai, seperti biasa Anna, Zizi, Marsha, Marcel dan Zio pulang bersama.
Dalam perjalan di koridor gedung perkuliahan, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Marsha.
“pulang bareng yuck,,” ajaknya.
“loe Fael, gue kiraan siapa” jawab Marsha.
“sorry yha guyz, gue pulang bareng Rafael” ucap Marsha ama temen-temennya.
“sejak kapan mereka akrab?” tanya Marcel.
“biarin ajha lah Cel,,” kata Anna.
Marcel hanya bisa terdiam.
***
Semakin lama hubungan antara Marsha dan Rafael semakin dekat. Hingga akhirnya masing-masing perasaan mereka terungkap. Seperti biasa, Marsha pulang bersama Rafael.
“Sha,, gue pengen ngomong sesuatu ama loe..”ucap Rafael ketika sedang berada di atas motor bersama dengan Marsha.
“ngomong ajha” jawab Marsha.
“tapi gak disini, loe bisa temenin gue bentar gak..?” tanya Rafael.
“kemana..?” ucap Marsha.
“gue pengen ngajak loe ke sebuah tempat” kata Rafael.
“okey,,” jawab Marsha.
Tak lama perjalanan mereka, merek pun sampai di sebuah danau, lalu mencari tempat duduk.
“loe sering kesini?” tanya marsha.
“yha, kalau gue lagi gak mood, lagi sedih, marah, gue selalu kesini. Disini gue selalu bisa tenangin pikiran dan perasaan gue” jawab Rafael.
“owh gtu.. by the way, loe pengen ngomong pa’an?” tanya marsha.
“gini Sha, sebenarnya…” Rafael terhenti. Lalu ia melanjutkan.
“gue sayang ama loe, gue selalu pengen ngejagain loe. Gue pengen jadi orang yang selalu ada buat loe, saat loe sedih gue pengen jadi orang pertama yang ngehapus air mata loe, di saat loe lagi seneng gue juga pengen ngerasain kebahagiaan loe” ucap Rafael dengan lembutnya seraya memegang tangan Marsha.
“loe mau kan jadi bagian dari kisah hidup gue, yang akan ngisi warna di hari-hari gue” pinta Rafael.
“hmm,,,,,” Marsha berfikir.
Sejenak merekapun terdiam.
“yha, gue mau..” jawab Marsha akhirnya dengan sikap malu-malu.
Disaat yang bersamaan, Marcel teman kecilnya Marsha sedang bersiap-siap untuk mengungkapkan perasaannya.
“gue harus coba, dari pada gue gak tau arah gini..” ucap Marcel pada dirinya sendiri.
Marcel menuggu Marsha didepan kostnya.Dua jam telah berlalu, tapi orang yang yang ditunggu tak kunjung datang. Marcel pun memutuskan untuk masuk ke kosannya, kebetulan kosan mereka bersebelahan dan sama-sama berada di lantai dua. Marcel pun membersihkan dirinya (alias mandi). Ketika ia keluar dari kamarnya dan berdiri di balkon kamar kosnya ia melihat marsha pulang diantar oleh Rafael. Setelah Rafael pergi, Marsha pun masuk ke kosannya dan menaiki tangga menuju kamarnya.
“dari mana loe Sha..?” tanya Marcel.
“loe ngagetin gue jha..” jawab Marsha dengan terkejut.
“gak dari mana-mana, cuma jalan-jalan jha..” jawab marsha dengan santainya.
“loe da waktu gak Sha,,? da yang pengen gue omongin ama loe” tanya Marcel.
“gue juga ada yang mau di omongin ma loe, tapi ntar yha, gue mandi dulu, udah bau ne..” jawab Marsha.
“okey, ntar kalau loe udah selesai, panggil gue yha,,” kata Marcel.
“shipz,, bosss…” kata Marsha sambil tersenyum dengan manisnya.
Marsha pun masuk ke kamarnya dan langsung mandi. Marcel juga masuk dan berlatih kata-kata yang akan ia ucapkan padan pujaan hatinya itu yang selama ini telah lama ia pendam.
“cel.. gue udah siap ni,, keluar donk..” teriak Marsha dari balkon kamarnya.
Marcel pun keluar.
“loe pengen ngomong pa’an Cel..?” tanya Marsha.
“owh.. gne Sha… sebenarnya gue…” ucap marcel dengan gugupnya.
“sebelum loe ngomong, gue yang duluan ngomong” tiba-tiba Marsha memotong pembicaraan Marcel.
“gue udah jadian ma Rafael,,, seneng banget gue rasanya. Akhirnya perasaan yang gue pendam bisa terungkap dan gak bertepuk sebelah tangan” Marsha menceritakan persaannya dengan mata berbinar-binar.
Bagaikan kaca yang jatuh dan pecah begitu pula perasaan yang sedang dirasakan Marcel. Terdiam. Ia hanya bisa terdiam dan terpaku membisu.
“loe pengen ngomong pa’an tadi Cel,,?” tanya Marsha.
Tanpa menjawab, Marcel langsung masuk kemarnya.
“loe marah ama gue cel gara-gara gue motong pembicaraan loe?” teriak Marsha pada Marcel.
Marcel menutup pintu kamarnya tanpa menghiraukan teriakan dari Marsha.
“kenapa Tuhan,,? kenapa ini semua terjadi? mungkinkah ini yang terbaik,,? kalau ini adalah demi kebahagiaan ,arsha, bantu aku untuk melupakan dan merelakannya..” gumam marcel pada dirinya sendiri.
Sejak kejadian itu, sejak ia mengetahui kalau cintanya bertepuk sebelah tangan, ia berusaha untuk melupakan dan merelakan Marsha dengan cara menghindarinya.
“Cel,, temenin gue ke perpus yuck,,?” pinta Marsha.
“maaf Sha, gue lagi sibuk..” jawab Marcel.
“loe becanda kan Cel,,? loe duduk-duduk jha.. kenapa loe berubah gini sich Cel..? loe jadi hindarin gue.. apa karena masalah yang waktu itu? gue minta maaf..” pinta Marsha.
“gue gak berubah..” Marcel pun lalu beranjak pergi.
“Cel,,,…” teriak Marsha.
Tanpa menghiraukan Marsha, Marcel pun pergi.
“auw….” teriak Marsha.
Marcel pun berbalik dan sudah melihat Marsha tergeletak di lantai. Spontan, Marcel pun langsung membawa Marsha kerumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari kampus. Sebenarnya Marcel sudah merasa khawatir kenapa akhir-akhir ini Marsha kelihatan pucat dan sering sakit kepala. Tapi karena ia sedang menghindari Marsha jadi ia tidak bisa menunjukkan rasa kekhawatirannya itu.
Setibanya di rumah sakit, Marsha langsung dilarikan ke ruangan UGD. Marcel pun langsung memberi tau orang tua Marsha dan sahabat-sahabatnya. Tapi karena orang tua Marsha sedang berada di luar negeri jadi mereka akan terlambat untuk datang.
Setengah jam berlalu, tapi dokter yang memeriksa Marsha belum juga keluar dari ruangan UGD. Zizi, Anna,Zio, dan Rafael pun akhirnya datang.
“marsha kenapa Cel?” tanya Anna.
“gue gak tau, tadi tiba-tiba aja dia pingsan” jawab Marcel.
“kenapa jadi gini? waktu itu dia juga pingsan saat pergi jalan ama gue. tapi dia bilang gak pa-pa dan menolak saat gue ajak ke rumah sakit” ucap Rafael.
Dokter pun keluar dari ruangan UGD dan menjelaskan kepada mereka tentang apa yang terjadi pada Marsha. Kanker otak stadium IV, itulah yang dikatakan dokter tentang penyakit Marsha dan tidak banyak waktu yang tersisa. Dokter juga mengatakan bahwa Marsha sebelumnya sudah mengetahui tentang penyakitnya dan menolak untuk dilakukan kemoterapi.
“gak mungkin dok, tadi Marsha masih baik-baik ajha” kata Rafael.
“yha dok.. tadi ia masih tersenyum dan sempat juga jaim ma kami dok.. dokter pasti salah” kata Zizi sambil menagis dan memeluk Anna.
Marcel hanya terdiam dan terpaku, ia masih tidak percaya kalau orang yang di sayanginya itu sedang sakit parah.
“apa kami boleh masuk dok,,?” tanya Zio.
“kalian boleh masuk asalkan jangan berisik, karena Marsha perlu istirahat” kata dokter.
Merekapun masuk, dan terlihatlah seorang cewek berparas cantik sedang sekarat di atas tempat tidur. Terlihat wajahnya yang pucat dan ia terbaring tidak berdaya. Mereka menunggui Marsha sampai ia siuman.
“loe udah sadar sha,,?” kata Marcel ketika ia meliha Marsha mulai membuka matany.
“maafin gue..” pinta Marsha dengan suara yang terdengar lemah.
“gue yang harus minta maaf Sha,,” pinta Rafael sambil memegang tangan kekasihnya itu.
“maaf karena gue gak tau tentang penyakit loe dan gak ngasi perhatian lebih ma loe, seharusnya gue selalu ada di saat loe ngerasa sakit” sambung Rafael sambil meneteskan air mata.
“gue juga minta maaf Sha, gak seharusnya gue jaga jarak ma loe,, gue emang sahabat yang gak baik ama loe” ucap Marcel.
“loe jangan bilang gitu Cel, dan Fael.. jangan sedih gItu.. gue sengaja gak cerita ama kalian semua, gue gak pengen kalian semua khawatir” kata Marsha.
***
Zizi dan Anna hanya bisa memeluk temennya itu. Setiap hari, mereka selalu datang untuk menjenguk Marsha. Mengajak Marsha jalan-jalan ke taman yang berada di rumah sakit tersebut. Mereka duduk-duduk ditaman sambil berusaha membuat Marsha tetap tersenyum dan selalu ceria.
“guyz..” marsha memanggil teman-temannya dengan nada lirih.
“gue pengen kalian ngabulin permintaan gue, mungkin ini adalah permintaan terakhir gue” pinta Marsha.
“jangan bilang gitu donk Sha” kata Zizi.
“gue pengen kita pergi piknik. Gue, Zizi, Anna, Marcel, Zio dan Fael pergi piknik ke danau yang pernah gue datangin ama Fael. Gue pengen istirahat dan tenangin pikirin disana, gue capek.. kalian mau yha,,?” pinta marsha dengan lemahnya.
Mendengar permintaan tersebut, mereka hanya bisa tertunduk diam.
“okey Sha, besok kita pergi yha..” kata Rafael.
***
Setelah meminta izin pada dokter yang merawat marsha untuk membawa Marsha pergi, Zizi, Marcel, Anna, Rafael dan Zio membawa Marsha ke tempat yang ingin ia datangi.
Setibanya di danau, mereka pun duduk santai di atas tikar yang terbentang diselingi dengan makanan yang mereka bawa.
Mereka semua tertawa berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Mendadak Marsha merasakan sakit pada kepalanya.
“loe gak pa-pa kan Sha,,,?” tanya Rafael.
“gue pengen tidur di pelukan loe, Fael..” kata Marsha.
Lalu ia merebahkan badannya ke Rafael. Kepalanya ia letakkan di atas paha Rafael. Rafael pun mengelus kepala Marsha. Marsha menggenggam tangan Rafael dengan eratnya karena ia sedang menahan rasa sakit yang teramat sakit. Marsha pun mulai bicara.
“Zizi, Anna… maafin gue yha.. gue gak pernah jadi sahabat yang baik buat loe berdua.. gue selalu jha jaim ma kalian..” kata Marsha lirih.
“jangan bilang gtu, Sha..” pinta Anna.
“itu gak bener Sha,, loe adalah sahabat terbaik buat kita” jelas Zizi.
“Zio,,,” panggilnya pada Zio.
“maafin gue, gue selalu jha ngerepotin loe..” sambung Marsha.
“gak pa-pa Sha, loe kan sahabat gue..” jawab Zio.
“Cel.. maafin gue.. sebenarnya gue udah tau tentang perasaan loe ama gue,, tapi maaf gue sayang ama loe sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang kakak, loe adalah sahabat terbaik buat gue Cel…” kata Marsha pada Marcel.
“gak pa-pa Sha, asalkan loe bisa bahagia ama orang yang loe sayang, gue rela..” jawab marcel.
Marsha pun semakin erat menggenggam tangan Rafael. Terlihat ia sudah tidak punya tenaga lagi dan wajahnya semakin pucat. Dengan nada suara semakin lirih, ia lanjutkan untuk berbicara.
“Fael..” panggilnya pada Rafael.
“yha Sha,,” jawab Rafael.
“makasih, karena loe udah hadir di hidup gue, ngerubah hidup gue, ngasi pelangi di hari-hari gue.. tapi maf gue gak pernah bisa jadi cewek yang loe inginkan,, Fael” kata Marsha.
“loe salah Sha,, loe adalah cewek terbaik yang pernah gue miliki, loe adalah hadiah terindah yang di kasih Tuhan buat gue…” jawab Rafael sambil terus mengusap-usap kepala marsha.
“makasih yha,, buat kalian semua… sahabat-sahabat terbaik gue…” kata Marsha dengan suara yang semakin lemah.
Mereka semua tertunduk disamping Marsha dan tanpa disadari air mata mengalir begitu saja di pipi mereka.
“loe semua jangan kayak anak kecil gotu donk.. kalian harus selalu tersenyum kalau pun akhirnya gue udah gak ada..” kata Marsha sambil tersenyum.
“gue pengen tidur,, gue capek…” katanya.
Ia pun memegang tangan sahabat-sahabatnya itu sambil tersenyum. Tiba-tiba disaat matanya terpejam, pegangan tangan yang mulanya erat itu tiba-tiba terlepas begitu saja. Marsha menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyuman di pelukan shabat-sahabatnya.
“Marsha…….” teriak semuanya.
“jangan tinggalin gue,,,,” pinta Rafael.
“kenapa Tuhan,, kenapa setelah dia gak bisa gue miliki, kenapa akhirnya dia harus pergi..? gue cuma pengen ngelihat dia bahagia..” kata Marcel dengan lirih.
Mereka semua berpelukan.

“Cinta memang gak selalu harus memiliki. Melihat orang yang dicinta tersenyum bahagia dengan orang lain dan mengikhlaskan orang tersebut untuk bahagia dengan orang yang dicintainya… itulah cinta…
Sahabat,,, adalah orang yang selalu ada disaat kita membutuhkannya, disaat kita bahagia, dan walalupun itu adalah saat-saat terakhir dan yang paling sulit untuk kita lalui.”

Dua bulan telah berlalu sejak kepergian marsha. Semuanya kembali normal. Rafael, Marcel, Zizi, Zio, dan Anna kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa tapi sekarang tanpa kehadiran Marsha. Walaupun Marsha sudah pergi meninggalkan mereka, tapi rasa cinta dan persahabatan tiada akhir mereka bersama Marsha tak akan pernah terlupakan dan tergantikan. Karena Marsha akan selalu hidup di hati mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar